Jejak Mistis Desa Rahtawu
Pukul sembilan pagi, dengan naik motor dari Kota Kretek Kudus saya langsung
menuju Desa Rahtawu, di daerah pegunungan yang cukup dikenal dikalangan
masyarakat Kudus dan sekitarnya. Sebetulnya untuk mencapai daerah itu, dapat
ditempuh dengan naik angkutan kota dari terminal Kudus menuju Kecamatan Gebog.
Namun biasanya angkutan tersebut hanya sampai di pabrik Rokok Sukun, sementara
untuk mencapai Desa Rahtawu masih harus menempuh perjalanan sekitar sepuluh
kilo meter lagi. Dari Pabrik Rokok Sukun itulah perjalanan dapat dilanjutkan
lagi dengan naik angkutan lain berupa kendaraan bak terbuka atau metromini
Angkutan ini memang biasa dipenuhi oleh penduduk Desa Rahtawu yang kembali dari
kota, maupun para peziarah yang datang berombongan menuju desa tersebut.
Sementara angkutan dari arah Rahtawu biasa dipenuhi oleh para pedagang yang
membawa hasil pertanian dari daerah itu. Jadi jangan heran kalau saat turun
dari Rahtawu, akan naik angkutan yang dipenuhi oleh buah-buahan dan sayur hasil
pertanian.
Dari Kota
Kudus menuju Desa Rahtawu, masih harus penempuh perjalanan sepanjang dua puluh
enan kilometer. Jalan yang berkelok-kelok dan sudah agak rusak pasti akan
membuat hati selalu was-was selama dalam perjalanan. Bahkan tidak hanya itu
saja, tikungan tajam disertai tanjakan yang cukup terjal dengan keadaan jalan
yang berada dipinggir jurang, tentu membuat kita harus ekstra berhati-hati
dalam menempuh perjalanan itu. Memang kelihatannya, pembuatan jalan yang baru
dibangun pada awal tahun tujuh puluhan tersebut sengaja mengepras pinggiran
bukit dan tebing sebagai jalan satu-satunya yang menghubungkan daerah tersebut
dengan desa lainnya di Kudus. Oleh karena itulah disalah satu sisi jalan kalau
tidak ladang penduduk, pastialah jurang, sementara sisi lainnya adalah tebing
yang terjal.
Namun dibalik ketegangan dalam menempuh perjalanan di gunung Rahtawu, ada hal
yang menarik. Yakni keindahan alam yang masih alami. Berjalan di sore hari,
rasanya seperti terbang diatas awan. Kabut putih tebal selalu menutup rimbunnya
pepohonan. Gunung dengan pemandangan indah itulah yang didalam dunia pewayangan
dikenal dengan nama Gunung Retawu.
"Mau naik ke atas Mas," itulah sapaan ramah salah seorang warga Desa
Rahtawu.
Bahkan pertanyaan seperti itu sering dilontarkan oleh penduduk yang berpapasan
dengan pengunjung. Memang Desa Rahtawau sudah biasa dikunjungi oleh orang dari
luar daerah, yang hendak berziarah dipetilasan-petilasan yang ada di daerah
itu, maupun sekedar untuk mendaki puncak tertinggi gunung Rahtawu, yang dikenal
dengan nama Puncak Songolikur.
Desa Rahtawu ternyata menyimpan petilasan-petilasan yang dipercaya sebagai
peninggalan tokoh pewayangan. Diantaranya ada peninggalan tokoh-tokoh wayang
seperti, Bambang Sakri, Abiyasa, Sekutrem, Pandu Dewananta, Kamunayasa, Semar
serta beberapa tokoh pewayangan lainnya. Aneh memang, ternyata beberapa tokoh
yang ada dalam cerita fiktif pewayangan, ternyata memiliki peninggalan berupa
tempat pertapaan. Tidak hanya itu saja, di Gunung Rahtawu terdapat juga tempat yang
memiliki nilai mistis yang cukup tinggi, yakni Puncak Songolikur. Dipuncak
dengan ketinggian sekitar 1.522 dpl ini dipercaya sebagai pusat kerajaan gaib
dalam dunia pewayangan. Puncak Songolikur adalah tempat tertinggi di Gunung
Rahtawu, yang dihuni Sang Hyang Wenang, tokoh tertua dalam dunia pewayangan.
"Jadi jangan bertingkah laku sembarangan ditempat itu," pesan Mbah
Kamto.Sebab dipuncak yang telah ditata dan dilengkapi beberapa patung itu,
beberapa waktu yang lalu pernah diobrak-abrik oleh beberapa pelajar, tapi
siswa-siswa yang merusak tempat itu akhirnya celaka. Mereka mengalami
kecelakaan setelah turun ke bawah.
Menurut kepercayaan penduduk setempat, jika seseorang mampu mencapai Puncak
Songolikur dengan mudah, maka akan memperoleh kemuliaan dan kemudahan apa yang
dicita-citakan. "Lebih sempurnanya lagi kalau telah tujuh kali
berturut-turut mampu mendaki puncak," ungkap Mbah Kamto, seorang pertapa
di Pertapaan Gajah Mada.
Yang dimaksud pertapa asal Semarang itu adalah, kemuliaan untuk orang yang
telah tujuh kali berturut-turut mendaki puncak Songolikur setiap tanggal satu
syura, setiap tahunnya.
Mendaki Puncak Songolikur tidak akan komplit tanpa membawa oleh-oleh khas dari
tempat ini, yakni Buluh Perindu. Adalah sebuah benda keramat berbentuk seperti
kumis harimau. Benda warna hitam ini dipercaya memiliki kekuatan gaib untuk
pengasihan. Untuk mendapatkan benda langka ini ternyata tidaklah mudah, sebab
Buluh Perindu hanya ada di sarang Burung Rajawali, dan itupun tidak semua orang
dapat menemukannya "Saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan
barang itu," cetus Bambang Sawer, seorang pemuda asal Semarang.
Namun selain itu, di Desa Rahtawu ternyata juga meninggalkan beberapa petilasan
tokoh-tokoh penting seperti Maha Patih Gajah Mada, Mantan Presiden pertama RI,
Ir. Soekarno dan Brandal Lokajoyo yang dalam Islam dikenal sebagai Sunan
Kalijaga. Sama dengan tempat-tempat lainnya, dipetilasan itu juga dikeramatkan
oleh warga. Entah benar apa tidak bahwa Mantan Presiden Soekarno pernah bertapa
diatas Gunung Rahtawu, yang jelas itulah keyakinan penduduk, dan sekarangpun
tempat itu dibangun, sebagai petilasan mantan presidan RI pertama.
Pokoknya bagi warga, tidak ada tempat yang tidak keramat diatas Gunung Rahtawu,
setiap jengkal tanah Rahtawu memiliki nilai magis tersendiri. Itu lantaran
ditanah tersebut merupakan kerajaan gaib yang dipercaya menjadi tempak moksanya
para raja dan tokoh penting di dunia pewayangan. Masyarakatpun selalu
menghormatinya dan menjadikan tempat alternatif untuk meminta berkah, dan
ternyata itu dilakukan tidak hanya oleh masyarakat setempat saja tapi juga
banyak warga dari daerah lain. Seperti dari Pati, Demak, Tuban dan banyak
penduduk dari daerah lainnya. Ritual merekapun seakan kembali pada jaman
animisme, membakar kemenyan dan menyembah petilasan tersebut.
0 komentar
Label: Tentang SMK Mambaul Falah